Budaya corat-coret baju seragam setelah pengumuman kelulusan sekolah merupakan hal yang aneh tapi dianggap lazim oleh banyak siswa yang baru lulus sekolah. Biasanya, para siswa saling tukar tanda tangan di baju mereka. Tak luput juga, pilok dan cat yang berwarna warni menghiasi baju mereka yang putih itu. Semua itu mereka lakukan sebagai ekspresi kebahagian karena telah berhasil menyelesaikan masa belajarnya di sekolah. Bahkan tak jarang juga setelah pesta corat-coret baju para siswa yang baru lulus tersebut konvoi mengelilingi daerah sekitarnya menggunakan motor. Ntah sejak kapan budaya yang aneh dan kurang berpendidikan tersebut muncul dan menjadi trend di kalangan pelajar indonesia yang sudah membuat penulis sangat merasa miris karena menunjukan bobroknya akhlak dan moral para pelajar.

Siswa adalah produk intelektual yang dicetak negara agar menjadi contoh dan teladan terhadap masyarakat. Bukanya, penyakit yang menunjukan betapa bodohnya daya berfikir mereka dengan melakukan hal-hal yang kurang pantas dan tidak etis dilakukan  melalui kaca mata agama dan budaya. Budaya corat-coret baju setelah lulus merupakan bukti gagalnya siswa dalam mengaplikasikan teori pendidikan yang dia tempuh selama duduk dibangku sekolah. Bagi mereka, sekolah hanyalah sekedar pabrik pencetak ijazah yang disediakan oleh pemerintah serta tempat berkumpul, bermain, dan berhura-hura bersama teman.

Gaya hidup hedonis juga menghiasi otak para pelajar sehingga mereka kurang memiliki rasa perihatin. Jikalau, mereka memiliki sedikit rasa perihatin dengan lingkungan sekitar pasti mereka berfikir berkali-kali untuk mencoret baju mereka.  Karena, berapa banyak orang di indonesia susah mendapatkan pakaian yang baik bahkan untuk makan sehari-haripun sulit karena keterbatasan ekonomi. Seharusnya para siswa itu lebih bersyukur kepada Allah telah diberikan pakaian yang baik lagi indah. Lalu, mewujudkan rasa syukur itu dengan lebih peka terhadap kondisi sosial sekitar. Dimana, jika dia sudah tidak membutuhkan baju seragam tersebut maka, bisa dishadaqahkan kepada yang lebih membutuhkan.

Tidak dapat dipungkiri juga bahwa sekolah bisa dikatakan kurang berhasil dalam mendidik ahlak siswanya. Walaupun, itu semua tidak mutlak kesalahan sekolah. Sekolah hanya fokus mengajarkan mata pelajaran dan membuat siswanya menjadi mesin kalkulator yang mengitung angka matematis atau robot yang berbahasa inggris, terbukti dengan cara pandang bahwa, siswa yang baik adalah yang nilainya tinggi, juara olimpiade matematika, atau yang lancar berbahasa inggris. Penulis tidak mengatakan bahwa membuat siswa menguasai pelajaran dan meraih prestasi dengan nilai tinggi adalah hal yang buruk.  Bahkan, itu hal yang sangat baik dan patut diapresiasi. Akan tetapi, ada hal mendasar yang harus kita perhatikan secara lebih seksama selain mencerdaskan IQ siswa. Yaitu, menanamkan budi pekerti dan pengajaran agama yang baik. Walaupun, sangat disayangkan materi pelajaran agama disekolah pada umumnya hanya diajarkan dua jam perminggu. Akan tetapi, itu tidak jadi penghalang bagi guru agar selalu menyisipkan nilai-nilai dan ajaran agama ketika mengajar pada mata pelajaran apapun. Karena, esensinya agama adalah praktik serta action dan  bukan materi yang diajarkan lalu diujikan melalui pilihan ganda.

Sudah saatnya bangsa ini berubah dengan melenyapkan budaya-budaya yang tidak pantas dilakukan menurut agama dan budaya seperti, corat-coret baju seragam setelah lulus sekolah. Karena, itu adalah bentuk hilangnya rasa syukur kepada Allah atas rezeki yang diberikan kepadanya. Penulis juga sangat berharap bagi para calon intelek yang baru lulus (baca:siswa) agar tidak meneruskan budaya memalukan tersebut. Serta, bagi para orang tua maupun guru agar selalu menamkan nilai-nilai agama bagi para siswa. Karena, sejatinya tujuan pendidikan itu untuk mencetak insan yang berahlak dan bukan  mencetak kalkulator yang hanya menghitung angka matematis.

Ditulis oleh : Qolbun Salim Alfaruqi

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.